Entah mengapa, ada banyak kata indah yg tercipta untuk ibu, tapi begitu miskin kata untuk seorang ayah….
Pada suatu kesempatan, aku hadir dalam misa di sebuah stasi. Di depan, terpisah dari bangku umat, duduk seorang lelaki tua dalam keheningan

Lelaki tua di sudut gereja itu menatap khusuk altar Tuhan yang sekian lama dirindui karena pandemi ini. Lelaki tua yg merindukan perjumpaan dg Tuhan dalam Ekaristi yg telah lama tak bisa diikuti karena “SINDEMI” (Sinergi pandemi, istilah yg baru kudapat) covid-19 ini.
Di sisi lain, pernah juga ku jumpai, sepasang suami-istri yg pulang dari menghadiri misa. Tangan mereka menyatu erat, tak hendak berpisah

Waktu itu pandemi belum merebak sehebat sekarang (walau selama pandemi mereka tetap berusaha datang, meskipun sebenarnya ada kebijakan tersendiri untuk lansia)
Menjadi tua merupakan sebuah kepastian, menjadi dewasa adalah sebuah pilihan; walau orang tua seringkali diindentikkan dengan kedewasaan.
Kedewasaan bukanlah rahmat yg jatuh dari langit seiring bertambahnya usia. Kedewasaan merupakan hasil dari proses belajar mengolah berbagai peristiwa kehidupan dalam keheningan hati dan pikiran. Karena itu, bisa saja seorang muda memiliki kedewasaan melebihi orang tua, bila ia punya kesempatan untuk hening mengolah berbagai pengalaman hidup
Aaah, cerita ku kali ini berat. Padahal cuma mau mengucapkan selamat hari ayah😁.

Hanya saja, dua foto yg ada di hpku tadi membuat aku berpikir soal hidup di masa tua. Aku sungguh berharap bisa mengisi masa muda dg ceria, sehingga masa tua tak diliputi rasa kecewa.
Pak, doakan kami yg masih berjuang di dunia ya. Bapak tenang dan bahagialah di surga. Bapak sudah banyak berjuang. Terima kasih untuk semua perjuangan itu. Peluk sayang dan rindu untuk bapak.
